Blogger templates

Saturday, November 15, 2014

On 1:37 PM by fdabusaad@gmail.com   No comments


Manusia tanpa memiliki malu menjadikannya lebih buruk dibanding hewan, yang kuat menindas yang lemah, yang tua tidak menyayangi yang muda, yang kecil tidak menghormati yang besar. Dan bila manusia sudah tak lagi memperhatikan rasa malu, dan terlebih malu dari Allah yang maha Mulia, sehingga tidak heran jika melanggar batasan Allah dan menerobos keharaman-Nya serta saling berebut memaksiati-Nya. Muncullah pola kehidupan hutan.



Benarlah kata seorang penyair:


فلا والله ما فى العيش خير ... ولا الدنيا إذا ذهب الحياء
يعيش المرء ما استحيا بخير ... ويبقى العود ما بقي اللحاء

Demi Allah, kehidupan tak akan lagi menjadi baik

               begitu pula dunia tatkala malu telah sirna
Seseorang itu hidup selagi malu dengan cara yang benar
               Sebagaimana batang pohon itu bertahan selagi ada kulit luarnya

Batang-batang kayu pepohonan akan hidup apabila ada kulit-kulit di bagian luar, bila kulit tersebut selalu dikelupas maka pohon akan mongering dan kelamaan akan mati dan tumbang.

Malu adalah karunia terbesar bagi manusia. Karena malu manusia tidak sama dengan binatang. Karena malu manusia takut berbuat maksiat.

Dahulu ada seseorang menemui Imam Ahmad bin Hanbal, lantas beliau menyenandungkan syair:

إذا ما قال لي ربي ... أما استحييت تعصيني
وتخفي الذنب من خلقي ... وبالعصيان تأتيني
فما قولي له لما ... يعاتبني ويقصيني

Jika Rabb-ku bertanya padaku

               Tidakkah kamu malu untuk bermaksiat pada-Ku
Kamu sembunyikan dosa dari seluruh makhluk-ku
               dan kamu datang pada-Ku dengan kedurhakaan
Maka, apa jawabanku untuk-Nya
               saat Dia mencercaku.

Maka Imam Ahmad memintanya untuk mengulang bait tersebut dan dibacakan ulang lalu Imam Ahmad masuk ke dalam rumahnya sambil mengulang-ulangnya dan menangis.

0 komentar:

Post a Comment