Blogger templates

Thursday, February 5, 2015

On 11:38 PM by fdabusaad@gmail.com   No comments
 

Diantara hal yang mendasari baiknya kebijakan politik Muawiyah dan menjamin kekokohan pilar-pilar negaranya adalah bahwa beliau mengawasi langsung segala urusan negaranya dan mengetahui seluruh persoalan rakyatnya, dari yang besar hingga yang kecil. Sekalipun beliau telah mengangkat tokoh-tokoh pada zamannya sebagai pejabat yang setia membantunya, beliau tidak merasa cukup. Justru ia mengoptimalkan waktu dan tenaganya sendiri demi negara dan kepentingan umat islam.


Al-Mas’udi memberikan kepada kita keterangan unik tentang kegiatan Muawiyah selama dua puluh empat jam, bagaimana ia menggunakan waktunya untuk mengendalikan urusan negara. Kita tahu Al-Mas’udi adalah ahli sejarah Syiah, Syiah terkenal memusuhi siapapun yang pernah terlibat melawan Ali bin Abi Thalib. Namun justru di sini ia akan menjelaskan keistimewaan Muawiyah, menunjukkan bahwa dia harus mengakui bahwa Muawiyah adalah sosok yang hebat dalam panggung sejarah.

Di antara bentuk keramahan Muawiyah dalam memimpin adalah memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menemuinya sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Dan berikut ini adalah gambaran kegiatan Muawiyah dalam dua puluh empat jamnya.

Seusai mengerjakan shalat Subuh, Muawiyah duduk dan mendengarkan ahli cerita hingga semua ceritanya usai. Setelah itu, ia masuk dan diambilkan mushaf, lalu membaca bagian bacaannya. Kemudian ia masuk ke kediamannya untuk memberikan intruksi perintah dan larangan. Lalu ia shalat empat rakaat (shalah Dhuha).

Selanjutnya Muawiyah pergi menuju majlisnya dan mempersilahkan para pejabat khususnya untuk menemuinya guna saling bertukar pikiran. Para menteri juga menghadapnya dan melaporkan keperluan mereka sepanjang hari itu.

Kemudian Muawiyah masuk ke kediamannya jika ia mau, dan pergi lagi ke majlisnya, lalu berkata, “Hai buyung, ambilkan kursi.” Maka datanglah kaum dhuafa, orang-orang pedalaman, anak-anak, kaum perempuan, dan orang-orang yang sebatang kara. Ada yang mengadu, “Aku dizhalimi.” Muawiyah berkata, “Bantulah ia.” Yang lain mengadu, “Aku dimusuhi.” Muawiyah berkata, “Kirimlah orang bersamanya.” Yang lain lagi mengadu, “Aku ditipu.” Muawiyah berkata, “Selidikilah urusannya.”

Setelah semua orang itu pulang, Muawiyah masuk dan duduk di singgasana, lalu berkata, “Persilahkan orang-orang yang masuk sesuai dengan kedudukan mereka. Aku tidak mau ada yang menyibukkanku dari menjawab salam.” Sesudah mereka duduk rapi, ia berpidato, “Wahai kalian semua, kalian disebut orang-orang terhormat karena kalian mendapatkan kehormatan untuk berada di majlis ini. Laporkanlah kepadaku semua kebutuhan orang-orang yang tidak bisa mengadu sendiri. Ada yang berdiri dan melapor, “Si A gugur sebagai syahid (dalam pertempuran).” Muawiyah berkata, “Berikanlah bagian puteranya.” Yang lain melapor, “Si B pergi lama meninggalkan anak isterinya.” Muawiyah berkata, “Janjikanlah mereka, bantulah mereka, penuhilah kebutuhan mereka, dan layanilah mereka.” Hingga semuanya mendapat haknya masing-masing.

Selanjutnya, Muawiyah masuk ke kediamannya karena tidak ada lagi orang yang ingin bertemu dengannya, hingga masuk waktu Zhuhur. Muawiyah pun berangkat untuk shalat empat rakaat dan dilanjutkan dengan duduk. Lalu ia memanggil pejabat khususnya. Para menteri juga menghadap kepadanya. Lalu mereka meminta intruksi-intruksinya yang mereka butuhkan pada sisa-sisa hari itu. Muawiyah lalu duduk untuk menunggu shalat Ashar, kemudia berangkat untuk shalat Ashar. Kemudian masuk ke kediamannya. Pada penghujung waktu shalat Ashar, ia pergi dan duduk di singgasananya. Kemudian ia mempersilahkan para pejabatnya pulang ke rumah masing-masing.

Ketika adzan Maghrib berkumandang, Muawiyah berangkat untuk shalat Maghrib, lalu seusainya ia shalat empat rakaat. Kemudian ia masuk ke kediamannya hingga dikumandangkan waktu shalat Isya’. Ia pun berangkat untuk shalat. Lalu ia mempersilahkan para pejabat khususnya, menteri, dan pembantunya untuk menemuinya. Para menteri pun meminta intruksi-intruksinya yang ingin mereka lakukan pada malam itu.

Selanjutnya sampai berlalu sepertiga malam, Muawiyah menyimak sejarah bangsa Arab dan perjalanan hidup mereka, juga sejarah bangsa non-Arab berikut raja-raja dan kebijakan-kebijakan politik mereka bagi rakyatnya, serta perjalanan hidup para raja berbagai bangsa, termasuk peperangan dan strategi mereka, dan cerita-cerita umat terdahulu lainnya.

Setelah Muawiyah masuk kamar dan tidur selama sepertiga malam. Kemudian ia bangun, lalu duduk dan mengambil buku catatannya yang berisi perjalanan hidup para raja dan cerita tentang mereka beserta aneka peperangan dan strategi mereka. Yang membacakan itu kepadanya adalah hamba-hamba sahaya yang digaji khusus untuk itu. Mereka ditugasi menghafalnya dan membacakannya. Jadi, setiap malam ia mendengarkan cerita-cerita, aneka perjalanan hidup, jejak-jejak langkah, dan berbagai kebijakan politik.

Selanjutnya Muawiyah berangkat untuk shalat Shubuh dan kembali melakukan rutinitas harian seperti yang sudah dikemukakan di atas.

Sikap dan perilaku sehari-hari Muawiyah ini mengispirasi banyak pemimpin sesudahnya, seperti Abdul Malik bin Marwan dan sebagainya. Tetapi mereka tidak bisa meniru kepandaiannya dalam menahan amarah, kepiawaiannya berpolitik, kehati-hatiannya dalam segala persoalan, kebiasannya mengontrol rakyat dan cara berkeliling ke rumah-rumah mereka, ataupun kelembutannya kepada mereka sesuai tingkatan mereka masing-masing.

Nampak beberapa hal yang menarik untuk dipelajari dari keseharian pemimpin kaum muslimin ini, di antaranya adalah kebiasaannya untuk selalu mempelajari sistem kepemimpinan, strategi, politik, membuat kebijakan melalui sejarah yang telah dikemas dalam bentuk cerita. Dari sini kita bisa mengambil faidah, bahwa belajar sejarah sangatlah penting, dan mengetahui sejarah kejayaan maupun kehancuran para umat terdahulu dan penyebab-penyebabnya dapat kita terapkan sekalipun berbeda zaman, kita juga dapat hindari sebab-sebab kehancuran suatu bangsa yang sudah pernah terjadi tanpa terulang kembali. Hal ini pun biasa dilakukan oleh para pemimpin bangsa yang sukses, biasanya mereka menyediakan waktu untuk mempelajari sejarah pendahulu-pendahulunya.

Berkat strategi politik Muawiyah yang jelas bertumpu pada prinsip-prinsip yang baku tersebut, stabilitas kondisi negara islam sangat terjaga. Secara umum, negara didominasi keteraturan dan keamanan. Stabilitas ini hanya diusik oleh kaum Khawarij yang tidak cocok dengan strategi politik tersebut.


(Sumber utama: Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, Prof. Dr. Abdussyafi Muhammad Abdul Aziz, hlm. 151-153)

0 komentar:

Post a Comment