Saturday, August 8, 2015
On 10:28 PM by fdabusaad@gmail.com No comments
Liburan…!
Seorang pemuda Rumania mengusir penat dan kebosanan
rutinitasnya. Mencari hawa segar di alam-alam bebas. Melakukan travelling,
jalan-jalan, menjelalah negara lain.
…
Seharian. Menikmati sejuknya alam, damai dan indahnya kehidupan.
Tak terasa, cahaya kian surut, matahari merendah di ufuk barat, kehidupan
merangkak menuju peristirahatannya, burung-burung mencari sangkarnya, dan
anak-anak binatang pun kembali menuju pelukan induknya. Sang pemuda pun lelah, saatnya
beristirahat, tuk merebahkan sendi-sendinya yang letih.
Tapi, dia masih di tengah alam, menapak jalan-jalan
persawahan, jauh dari jantung kota.
Setelah beberapa saat berjalan dituntun kesepian, seorang
petani nampak masih merampungkan pekerjaan. Dihampirinya dan ditemuinya. Pemuda
pun memulai satu pertanyaannya:
“Maaf, tahukah anda hotel di sekitar sini?”
Sang petani di negeri islam itu pun terhenyak, menyusun
kata-kata, lalu keluar dengan berat:
“Maaf, di sini tidak ada hotel, hotel hanya ada kota, masih jauh
sekali!”
Terdiam sejenak. Sunyi. Berfikir.
“Jika kamu mau, silahkan mengikuti kami, menginap bersama
kami malam ini.” Pak Petani mengusulkan.
Kaget. Lalu berbagai perasaan pun bermunculan. Tapi semuanya
menyiratkan satu makna, satu pesan, yaitu “ketakutan”. Dalam pikirannya kecamuk
perang kecil. Apakah aku akan mengikuti petani di sini? Apakah aku akan
menginap di rumahnya? Apa yang membuatku percaya padanya? Ini kan orang muslim.
Bagaimana kalau dia menipuku? Bagaimana kalau dia mengajak aku bersamanya lalu
membunuhku di tempat sepi?
Tergambar dalam pikirannya yang selama ini ia pikirkan.
Sangat mengerikan. Pembunuh, haus darah, hobi perang, bomber, terroris, …dst. Namun,
jalan terlanjur buntu di pikirannya, alam semakin gelap sehingga jalan semakin
buntu, tidak ada jawaban kecuali memasrahkan keadaan.
Setelah berjalan beberapa saat, nampaklah bentuk yang
mengisyaratkan rumah tinggal pak petani. Beberapa anak kecil berlarian
menyambut kedatangan petani dengan gembira. Barangkali anak-anaknya sudah menunggu
sejak tadi. Pikiran pemuda pun mulai stabil, melihat anak-anak membuatnya
sedikit tenang dan lega, semoga petani ini baik-baik saja!
Kini malam pun menghitam. Mereka masuk dimensi ruang yang
lebih gelap. Mungkin sedikit lebih gelap lagi dibandingkan sebelumnya saat
masih di ruang bebas. Barangkali karena listrik belum diizinkan menyetrum rumah
tersebut.
“Hai Pemuda, kamu tidur di ruang sebelah sini, aku dan keluargaku
tidur di ruang sebelah.” Perjanjian pun disepakati.
Tak lama, pemuda pun terlelap dengan pulas. Seakan seluruh
ketakutan dan kesusahannya larut dalam mimpinya. Hingga pagi menyapa, cahaya
meraba, dan pemuda membuka mata. Terkejut bukan main. Merasa ada yang aneh.
Rumah ini hanya satu kamar. Satu ruangan saja. Mana kamar satunya lagi? Berarti
Pak tani dan keluarganya tidur di kamar yang mana?
“Pak Petani, semalam anda dan keluarga tidur di kamar
sebelah mana?”
“Rumah ini hanya satu kamar.” Pemuda melanjutkan
pertanyaannya.
Petani sedikit menjelaskan, “Aku bersama anak-anak dan
istriku tidur di bawah pohon itu…” sambil menunjuk batang pohon.
“Pak Petani, apakah anda ini gila?”
Pak petani tak kalah heran, “Ada apa?”
“Anda perintah saya tidur di dalam rumah, tapi anda dan
keluaga anda malah tidur di luar dan di bawah pohon…”
“Begitulah agama kami mengajarkan.” Jawab petani singkat.
“Apakah agamamu mengajarkan seperti itu?” sang pemuda memastikan.
“Benar, dalam agama islam diajarkan memuliakan tamu.” Pak
tani berucap. Dengan mantap dan polos. Tanpa dibuat-buat. Apa adanya.
Membayangkan. Bila seorang petani saja memiliki akhlak baik
semacam itu, bagaimana dengan orang-orang islam yang lebih mulia? Bagaimana
dengan orang-orang besarnya? Bagaimana dengan orang-orang berilmunya?
…
Kemudian.
380 orang termasuk keluarganya di negaranya masuk islam.
…
Setelah mendengar kisah ini.
Seorang India mengucapkan syahadat. Laa ilaaha illallah.
Masuk dan memeluk islam.
“Mengapa kamu baru
masuk islam setelah mendengar kisah ini?”
“Bukankah kamu tinggal di negara islam?”
Kawan-kawannya heran. Bertanya-tanya. Bertubi-tubi.
“Karena selama ini, belum ada yang membuatku tertarik
memeluk islam!!!” ujar orang India tersebut.
Subhanallah…
Ternyata… Islam tak seperti yang digambarkan oleh sebagian
pemeluknya. Islam melarang pemeluknya meminum darah, apalagi menyebabkan haus
darah. Islam bukan agama yang keras dan mengajarkan kekerasan. Islam tak pernah
menginspirasi kejahatan. Islam adalah agama mulia, memuliakan semua orang,
memuliakan tamu. Islam adalah agama kasih sayang, kasih sayang kepada semua
makhluk, sekalipun kepada orang yang belum memeluknya.
Oh, jangan lupa. Islam juga mengajarkan kasih sayang sampaipun
terhadap makhluk yang tidak bernyawa, binatang, tumbuhan, dan seluruh alam.
Begitulah, saudaraku seislam!
Semoga yang di langit menyayangimu.
* Dikisahkan ulang oleh Syaikh Abdul Hadi Al-Umairi saat
berkunjung di suatu lokasi wilayah Gresik. Dengan penyesuaian bahasa dan tanda
baca agar lebih sederhana oleh-oleh dari Abu Sa’ad.
24 Syawwal 1436 / 9 Agustus 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Search
Popular Posts
-
Tanah adalah suatu bagian yang tak dapat terlepas dari kehidupan alam, namun banyak dijumpai tanah yang tidak digunakan, misalkan seb...
-
Ucapan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” adalah kalimat agung dalam agama Islam. Dengannya kita dapat saling mempererat h...
-
Kitab Ma'alim Ushul Fikih adalah kitab yang bagus dalam menjelaskan Ushul Fikih sesuai dengan pemahanam Ahlus Sunnah. Di dalamny...
Blog Archive
Translate
Powered by Blogger.
-
-

0 komentar:
Post a Comment