Tuesday, May 28, 2013
On 11:20 PM by fdabusaad@gmail.com No comments
Sebelum membicarakan
lebih lanjut judul ini, ada baiknya kita ketahui dulu pengertian kalimat
insya Allah. Secara
bahasa, kalimat ini tersusun dari tiga suku kata dalam bahasa Arab. Yang pertama
adalah kata syarat
yaitu in yang bermakna jika. Yang kedua,
kata kerja syaa’a
yang bermakna berkehendak.
Dan yang ketiga,
isim Allah yang menjadi pelaku
kehendak tadi. Jika digabung maka menjadi ‘Jika Allah berkehendak’.
Harus diketahui
bahwa kalimat ini memiliki makna dan faidah
yang agung dan berharga. Kalimat
ini sangat jelas mengandung keyakinan
tauhid, yaitu mengesakan
Allah semata dalam ketuhanan, sehingga
tidak ada yang berhak disembah
selain Allah kecuali
Dia.
Yang kedua,
kalimat ini juga dengan jelas menetapkan salah satu keyakinan
Ahlussunnah wal Jama’ah
yang penting. Yaitu Allah memiliki
kehendak, dan kehendak-Nya
tidak sama dengan
kehendak makhluk.
Yang selanjutnya
faidah dari kalimat
agung ini adalah,
perintah untuk bertawakkal
atau menggantungkan segala
urusan kepada Allah.
Karena semua yang terjadi pasti dikehendaki Allah,
jika Allah berkehendak
tidak terjadi maka pasti tidak akan terjadi.
Allah berfirman
dalam Al-Qur’an:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ
اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh
jalan itu) kecuali
apabila dikehendaki Allah,
Tuhan semesta alam”.
QS. At-Takwir: 29
Kapan kalimat
insya Allah ini diucapkan?
Dalam Al-Qur’an
dijelaskan masalah ini dalam surat Al-Kahfi:
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ
إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ
غَدًا _ إِلا أَنْ يَشَاءَ
اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ
إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ
عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ
رَبِّي لأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". QS. Al-Kahfi: 23-24
Sebab diturunkan
ayat ini adalah,
ketika Rasulullah ditanya
tentang kisah Ashabul
Kahfi, beliau menjawab
‘Besok aku akan menjawabnya’, namun wahyu ini terlambat turun 15 hari. (Lihat Tafsir
Ibnu Katsir 5/149 cet. Dar Thayyibah)
Berkata Syaikh
As-Sa’di dalam menafsirkan
ayat ini, “Larangan
ini seperti layaknya
larangan lainnya. Sekalipun
sebabnya khusus, dan ditujukan kepada
Rasulullah, namun mencakup
semua hamba yang mukallaf. Allah melarang hamba-Nya
untuk mengatakan ‘Aku akan melakukannya
besok’ dalam hal-hal
yang belum terjadi
tanpa menggabungkan dengan
kehendak Allah.
Hal itu karena terdapat
beberapa hal yang harus diperhatikan:
Berkata tentang
perkara ghaib yang akan datang
yang tidak ia ketahui, apakah
ia melakukannya ataukah
tidak? Apakah terjadi
ataukah tidak?
Di dalamnya
juga menyandarkan perbuatan
kepada kehendak hamba secara lepas.
Ini terlarang dan harus dihindari.
Karena semua kehendak
adalah milik Allah.
Sebagaimana dalam firman-Nya
‘Dan tidaklah kalian
berkehendak kecuali telah dikehendaki Rabb semesta alam’.
Dalam menyebutkan
kehendak Allah, terdapat
kemudahan urusan, mendapatkan
berkah, dan permintaan
pertolongan hamba kepada
Rabb-nya.” (Tafsir As-Sa’di
1/474)
Bagaimana bentuk
penyalahgunaan kalimat Insya Allah?
Pertama:
Kalimat insya Allah digunakan untuk mengungkapkan ketidaksediaan atas permintaan atau membatalkan perjanjian.
Dengan beralasan, kalau sudah mengatakan
insya Allah lalu melanggar, kan tidak lagi dianggap menyelisihi
janji atau berbohong.
Ini adalah
kesalahan, karena kalimat
ini digunakan ketika
sudah berazam atau berkeinginan melakukan
sesuatu. Sebagaimana dalam sebab turunnya
ayat yang telah berlalu.
Kalimat ini digunakan untuk menyatakan keseriusan
dan berusaha melakukan
sesuatu. Sehingga orang yang mendengar
dan menyaksikan akan merasa bahwa pengucapnya tengah
berusaha mengerjakan sesuatu.
Adapun mengucapkan
insya Allah namun dari awal memang tidak ingin melakukannya,
maka tidak perlu.
Sehingga orang lain pun tidak tertipu. Memang
benar jika kita berjanji melakukan
sesuatu lalu mengatakan
insya Allah, tiba-tiba
ada halangan yang mencegah terpenuhi
jani tersebut. Kita tidak berdosa,
tidak dianggap melanggar
janji, dan tidak disebut berbohong.
Sikap yang tepat, jika memang dari awal tidak ingin melakukan,
maka tidak usah mengatakan janji,
atau bilang saja saya ‘tidak
mau’ atau ‘tidak
sanggup’.
Kedua:
Mengucapkan insya Allah dengan takdir
tidak. Gambaran sederhana
sekaligus contoh, suatu saat dalam pertemuan pelajaran
di ruang kelas,
guru pengajar menjelaskan
pembahasan tertentu. Seusai
menjelaskan, ia bertanya
kepada seluruh muridnya,
‘Apakah kalian sudah faham?’, lantas
seluruh murid sepakat
menjawab dengan suara keras dan serempak ‘Insya
Allah’ dan disusul
dengan suara lirih ‘tidak’. Intinya
mereka mengatakan insya Allah tidak,
tapi tidak mengatakan
dengan jelas.
Hal ini tidak dibenarkan,
karena guru tadi akan mengira
semua murid faham dengan insya Allah mereka.
Sebab memang itulah
yang ia dengar.
Ini adalah penipuan.
Ketiga:
Kesalahan selanjutnya dalam pemakaian kalimat
insya Allah adalah,
semua-semua ditambah insya Allah. Semua perkataan pasti diberi imbuhan
insya Allah. Ketika
seorang ditanya ‘kamu sedang ngapain?’
dia menjawab ‘sedang
makan, insya Allah’.
Lha, ini kan sudah jelas-jelas
sedang makan, jadi sudah jelas Allah menghendaki
dia makan, tapi kenapa masih saja memakai
imbuhan syarat ‘jika’.
Kesimpulannya,
memang benar kita harus berusaha
mengamalkan semua syari’at
Islam, baik yang besar maupun
kecil. Namun kita tidak boleh berbuat seenak
hati kita alias serampangan mengamalkan
syari’at tersebut.
Dari penyalahgunaan lafadz di atas, ada beberapa dampak buruk yang berbahaya:
Pertama: Menjadikan setiap orang yang mengatakan insya Allah tidak lagi dipercaya. Bagaimana tidak kapok, setiap janjian pasti tidak dipenuhi, dengan alasan sudah memakai kalimat insya Allah. Akhirnya terjadi campur aduk dan tidak jelas.
Kedua: Lambat laun, lama kelamaan kalimat insya Allah digunakan untuk menunjukkan penolakan. Dan ini sangat bertolak belakang dengan asal pemakaian lafadz tersebut.
Wallahu A’lam.
@fdabusaad
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Search
Popular Posts
-
Tanah adalah suatu bagian yang tak dapat terlepas dari kehidupan alam, namun banyak dijumpai tanah yang tidak digunakan, misalkan seb...
-
Ucapan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” adalah kalimat agung dalam agama Islam. Dengannya kita dapat saling mempererat h...
-
Kitab Ma'alim Ushul Fikih adalah kitab yang bagus dalam menjelaskan Ushul Fikih sesuai dengan pemahanam Ahlus Sunnah. Di dalamny...
Blog Archive
Translate
Powered by Blogger.
-
-

0 komentar:
Post a Comment